Sekolah Rakyat: Asa Baru Bagi Pelajar Putus Sekolah di Bekasi

    Sekolah Rakyat: Asa Baru Bagi Pelajar Putus Sekolah di Bekasi
    Sekolah Rakyat: Asa Baru Bagi Pelajar Putus Sekolah di Bekasi

    16 April 2026 – Di tengah hiruk pikuk kehidupan perkotaan, sebuah program bernama Sekolah Rakyat hadir sebagai lentera harapan bagi mereka yang pernah terpaksa mengubur impian pendidikannya. Program yang menawarkan pendidikan tanpa biaya ini membuka lembaran baru, terutama bagi para siswa yang terhenti langkahnya akibat jurang keterbatasan ekonomi.

    Kisah inspiratif datang dari Daifulloh Afif, seorang pemuda 19 tahun asal Bekasi yang akrab disapa Dai. Kini, Dai kembali merasakan denyut semangat belajar di kelas 1 SRMA 13 Bekasi. Perbedaan usia dengan teman-teman sekelasnya tak sedikit pun memadamkan antusiasmenya, seolah menegaskan bahwa usia bukanlah penghalang untuk meraih ilmu.

    Sebelumnya, Dai harus menelan pil pahit terputus sekolah selama dua tahun. Perjalanan pendidikannya di bangku SMA harus terhenti di kelas 10, hanya bertahan sekitar tujuh bulan.

    “Dulu saya pernah sekolah SMA sampai kelas 1, tapi tidak sampai lulus. Saya sekolah cuma sekitar tujuh bulan, ” cerita Dai, Jumat (16/4).

    “Karena orang tua kurang biaya, ” imbuhnya, menjelaskan akar masalah yang memaksanya meninggalkan seragam putih abu-abu.

    Keluarga Dai diketahui berjuang mengais rezeki melalui usaha berjualan jajanan menggunakan gerobak di Bekasi. Demi mengurangi beban orang tua, Dai tak tinggal diam. Sejak usia 16 tahun, ia memilih terjun ke dunia kerja. Mulai dari berjualan tahu bulat, merantau sebagai mekanik di bengkel mobil, menjadi kurir belanja daring, hingga mengantar barang sebagai kurir jasa ekspedisi, semua dilakoninya demi kemandirian finansial.

    Namun, naluri seorang pelajar tak pernah padam dalam diri Dai. Meski telah memiliki penghasilan sendiri, hasrat untuk kembali menimba ilmu membuncah di hatinya.

    “Karena dari dulu sebenarnya saya ingin sekolah SMA, ” ungkap Dai, yang memiliki ketertarikan mendalam pada dunia pemrograman atau coding.

    Keinginan luhur ini akhirnya menemukan jalannya ketika Dai mengetahui tentang keberadaan Sekolah Rakyat yang membuka kesempatan bagi para penyandang status putus sekolah tanpa memungut biaya sepeser pun.

    “Menurut saya, Sekolah Rakyat sangat membantu. Karena di luar sana masih banyak orang yang putus sekolah karena biaya, ” ujar Dai dengan nada penuh syukur.

    “Dengan adanya Sekolah Rakyat ini, orang-orang masih bisa punya harapan baru untuk meraih cita-cita ke depannya tanpa harus pusing memikirkan biaya, ” tambahnya, menyiratkan optimisme yang kembali tumbuh.

    Lebih dari sekadar pembebasan biaya pendidikan, Sekolah Rakyat juga menyediakan seluruh fasilitas belajar hingga kebutuhan sehari-hari para siswanya. Mulai dari perlengkapan mandi, sepatu, kaos kaki, tas sekolah, hingga seragam, semuanya diberikan secara cuma-cuma. Dai pun merasakan manfaatnya, terutama dengan jaminan makan bergizi tiga kali sehari di asrama.

    Sistem pendidikan yang diterapkan di Sekolah Rakyat tak hanya membentuk kedisiplinan, tetapi juga mengembalikan Dai pada ritme kehidupan seorang pelajar. Rutinitas pagi yang dulu hilang kini kembali.

    “Sejak di SR, saya jadi bisa bangun pagi. Waktu masih berdagang, saya sering sampai pagi, bahkan sampai jam 2 atau 3 pagi. Jadi biasanya baru bangun sekitar jam 10. Sekarang, saya selalu bangun pagi, ” jelas Dai, menggambarkan perubahan positif dalam kesehariannya.

    Menatap masa depan, Dai memendam cita-cita untuk menjadi seorang pengusaha. Impian ini bukan hanya terlahir dari pengalaman getirnya berjualan tahu bulat, namun juga terus diasah melalui kegiatan ekstrakurikuler kewirausahaan yang aktif di sekolah.

    Salah satu wujud nyata kegiatan kewirausahaan di SRMA 13 Bekasi adalah melalui budidaya tanaman sayuran. Siswa diajak merawat hasil panen yang nantinya akan dijual, memberikan pengalaman praktis sekaligus merasakan manfaat ekonomi dari usaha bersama.

    Dai tak lupa menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pemerintah atas inisiatif program Sekolah Rakyat.

    “Untuk Bapak Presiden, terima kasih karena sudah mengadakan program Sekolah Rakyat. Kami yang kekurangan biaya jadi bisa punya harapan lagi untuk meraih cita-cita. Yang tadinya sudah putus di tengah jalan, tidak punya biaya, dan tidak tahu harus bagaimana, sejak ada Sekolah Rakyat, kami jadi punya harapan lagi, Pak, ” pungkas Dai, dengan sorot mata penuh harap.

    Kisah Dai adalah cerminan nyata bagaimana Sekolah Rakyat tidak hanya sekadar menanamkan kedisiplinan, melainkan juga menabur benih harapan baru bagi generasi muda yang kurang beruntung, membuka jalan bagi mereka untuk meraih masa depan yang lebih cerah.

    sekolah gratis pendidikan harapan bekasi siswa wirausaha
    Aa Ruslan Sutisna

    Aa Ruslan Sutisna

    Artikel Sebelumnya

    Bhabinkamtibmas Polsek Ciemas di Sidamulya...

    Artikel Berikutnya

    Apresiasi Kapoksi III DPR RI untuk Polda...

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Perumda Tirta Benteng Perluas Akses Air Bersih Kota Tangerang
    Resmikan Huntap Adaptif di Sukarame, Bupati Sukabumi Asep Japar Dampingi Penasihat Presiden
    Melalui Rakornis TMMD Ke-128, Dandim Mimika Perkokoh Kolaborasi untuk Pemerataan Pembangunan
    Kodim Brebes dan Kebumen Borong Juara Nasional TMMD 127, Bukti Kuatnya Peran Publikasi TNI
    Pemerintah Rampingkan Aturan dan Siapkan Banyak Insentif, Masyarakat Miskin Makin Mudah Punya Rumah

    Ikuti Kami